KHAZANAHNEWS.COM**BENGKULU-Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu terus menjalin hubungan harmonis dengan wartawan ekonomi yang tergabung dalam grup BI. Menjalin keharmonisan dengan berbagai kegiatan positif. Seperti hari ini, Selasa(9/6) BI kembali mengajak wartawan ekonomi menjajal olahraga Padel di lapangan De Gendiz Mega Mall.

Puluhan wartawan dari berbagai media ikut menjajal olahraga Padel yang terbilang cukup baru di Kota Bengkulu. Namun wartawan cukup semangat bermain Padel meski lapangan terbatas. Pimpinan dan jajaran BI ikut bermain karena memang sudah jadi agenda rutin. Nampak pimpinan BI, Wahyu Hidayat, Afri dan Tulus penuh semangat bersama wartawan hingga keringat bercucuran.

Selain berolahraga Padel bersama juga digelar “Bincang-Bincang Media(BBM) disampaikan Wahyu, bincang media didahului olahraga Padel agar pertemuan penuh warna dan terjalin hubungan yang positif dan menyehatkan. Disampaikan Wahyu BI terus menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah dinamika ekonomi global saat ini.
Langkah yang ditempuh Gubernur BI salah satunya menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 5,5 basis poin (bps) setelah sebelumnya telah dinaikkan secara kumulatif hingga 550 bps.
Kebijakan tersebut dilandasi dua tujuan utama, yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan ekspektasi inflasi. Selain itu, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menekan risiko imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
“Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi, terutama bagi sektor usaha yang memiliki komponen impor tinggi. Jika biaya produksi naik, harga jual ke masyarakat juga akan terdorong naik. Kenaikan BI-Rate menjadi salah satu upaya untuk meredam dampak tersebut,” jelasnya.
Tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu beberapa faktor. Pertama, meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sehingga kebutuhan dolar AS untuk impor energi semakin besar. Kedua, musim pembagian dividen kepada investor asing yang meningkatkan permintaan dolar AS. Ketiga, adanya siklus pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo pada periode ini.
Meski demikian, ia optimis Bengkulu memiliki potensi besar untuk memperkuat perekonomian daerah melalui komoditas unggulan yang telah menembus pasar ekspor serta sektor hortikultura yang terus berkembang.
Sementara itu, terkait inflasi daerah, BI mencatat inflasi Bengkulu pada Mei 2026 mencapai 0,86 persen, yang terutama dipicu kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food), khususnya cabai.
Namun memasuki Juni, kondisi harga-harga dinilai mulai membaik. BI memperkirakan laju inflasi bulan ini akan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya., alias sudah melandai.
BI bersama tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu sebelumnya memperkuat upaya pengendalian inflasi, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang utama tekanan inflasi pada Mei 2026.
Penguatan pengendalian inflasi dilakukan melalui implementasi strategis Aksi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Berdasarkan data terkini, inflasi Bengkulu secara tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 3,01 persen.
Selain itu, terdapat empat daerah yang menjadi fokus pemantauan terkait perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH), yakni Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Selatan.
Pemantauan dilakukan terhadap 20 komoditas pangan strategis yang berpotensi memengaruhi laju inflasi daerah, di antaranya bawang merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, dan sejumlah komoditas lainnya.
Berdasarkan data yang disampaikan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,85 persen secara bulanan (month to month/mtm) dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,61 persen.
“Komoditas cabai merah menjadi pendorong utama inflasi dengan andil sebesar 0,43 persen, disusul minyak goreng sebesar 0,06 persen. Sementara itu, daging ayam ras menjadi komoditas penahan inflasi dengan andil minus 0,11 persen,” kata Wahyu.
Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai merah dipengaruhi berkurangnya pasokan akibat dinamika cuaca dan tingginya curah hujan di sentra hortikultura. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan kualitas dan volume panen.
Di sisi lain, harga minyak goreng meningkat akibat kenaikan harga bahan baku crude palm oil (CPO) di pasar global serta meningkatnya biaya distribusi dan kemasan.
Sebaliknya, harga daging ayam ras mengalami penurunan seiring meningkatnya produksi, menurunnya biaya operasional peternak, serta bertambahnya pasokan dari luar daerah.
Langkah antisipatif, antara lain pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah sesuai petunjuk teknis Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), penguatan koordinasi antarinstansi, serta pemetaan komoditas penyumbang inflasi di masing-masing daerah.
TPID Provinsi Bengkulu berkomitmen terus meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Bank Indonesia, Perum Bulog, distributor, serta seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan daerah.***hasanah










