KHAZANAHNEWS.COM**Sebagian besar pengrajin Pelito Togok memutuskan untuk menarik kembali karya mereka sebelum kegiatan berakhir pada 26 Juli 2026. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kekecewaan atas penilaian terhadap hasil karya mereka yang dianggap tidak sesuai dengan anggaran, serta karena mereka merasa belum memperoleh apresiasi yang layak dalam upaya pelestarian budaya.
Para pengrajin menyampaikan bahwa pembuatan Pelito Togok bukan semata-mata dinilai dari besaran anggaran, melainkan juga mengandung nilai seni, nilai budaya, proses kreatif, serta dedikasi dalam menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Bengkulu.
Melalui sikap tersebut, para pengrajin berharap pemajuan kebudayaan ke depan dapat lebih menghargai proses berkarya, memberikan ruang apresiasi kepada pelaku budaya, serta menempatkan nilai-nilai pelestarian tradisi sebagai bagian penting dalam setiap program kebudayaan. Menurut para pengrajin, dukungan terhadap kebudayaan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan anggaran, tetapi juga melalui penghormatan terhadap karya, kreativitas, dan kontribusi para pelaku budaya dalam menjaga warisan budaya daerah.
Dewan Kesenian Kota Bengkulu menyampaikan bahwa kegiatan pembuatan 13 unit Pelito Togok dilaksanakan dengan total anggaran sebesar Rp8.850.000 yang bersumber dari Dinas Pariwisata Kota Bengkulu. Dengan keterbatasan anggaran tersebut, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap berkomitmen melibatkan para pengrajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan pelaku seni dan budaya.
Menurut Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu, Sandi Aprianto, biaya ideal pembuatan satu unit Pelito Togok berkisar antara Rp3.000.000 hingga Rp5.000.000, bergantung pada ukuran, desain, material, serta tingkat kerumitan pengerjaannya. Oleh karena itu, anggaran sebesar Rp8.850.000 untuk 13 unit pada dasarnya tidak mencerminkan nilai produksi yang sesungguhnya. Meski demikian, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap mengajak para pengrajin untuk berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian tradisi Pelito Togok.
Dalam proses pelaksanaan, Dinas Pariwisata Kota Bengkulu menilai Pelito Togok yang dihasilkan tidak sesuai dengan anggaran yang diberikan dan meminta agar setengah dari dana tersebut dikembalikan. Penilaian tersebut menimbulkan kekecewaan bagi Dewan Kesenian Kota Bengkulu karena menurut Dewan, aspek yang lebih utama adalah keberhasilan melibatkan para pengrajin, menjaga keberlangsungan tradisi, serta menghasilkan karya budaya sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan tersebut, Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu akhirnya mengembalikan setengah dari dana kepada Dinas Pariwisata Kota Bengkulu. Namun demikian, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap memberikan pembayaran penuh kepada para pengrajin sesuai komitmen yang telah disepakati, dengan menutupi kekurangan biaya [26/7 13.22] Nasti: Sebagian besar pengrajin Pelito Togok memutuskan untuk menarik kembali karya mereka sebelum kegiatan berakhir pada 26 Juli 2026. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kekecewaan atas penilaian terhadap hasil karya mereka yang dianggap tidak sesuai dengan anggaran, serta karena mereka merasa belum memperoleh apresiasi yang layak dalam upaya pelestarian budaya.
Para pengrajin menyampaikan bahwa pembuatan Pelito Togok bukan semata-mata dinilai dari besaran anggaran, melainkan juga mengandung nilai seni, nilai budaya, proses kreatif, serta dedikasi dalam menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Bengkulu.
Melalui sikap tersebut, para pengrajin berharap pemajuan kebudayaan ke depan dapat lebih menghargai proses berkarya, memberikan ruang apresiasi kepada pelaku budaya, serta menempatkan nilai-nilai pelestarian tradisi sebagai bagian penting dalam setiap program kebudayaan. Menurut para pengrajin, dukungan terhadap kebudayaan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan anggaran, tetapi juga melalui penghormatan terhadap karya, kreativitas, dan kontribusi para pelaku budaya dalam menjaga warisan budaya daerah.
[26/7 13.22] Nasti: Pernyataan Dewan Kesenian Kota Bengkulu
Dewan Kesenian Kota Bengkulu menyampaikan bahwa kegiatan pembuatan 13 unit Pelito Togok dilaksanakan dengan total anggaran sebesar Rp8.850.000 yang bersumber dari Dinas Pariwisata Kota Bengkulu. Dengan keterbatasan anggaran tersebut, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap berkomitmen melibatkan para pengrajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan pelaku seni dan budaya.
Menurut Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu, Sandi Aprianto, biaya ideal pembuatan satu unit Pelito Togok berkisar antara Rp3.000.000 hingga Rp5.000.000, bergantung pada ukuran, desain, material, serta tingkat kerumitan pengerjaannya. Oleh karena itu, anggaran sebesar Rp8.850.000 untuk 13 unit pada dasarnya tidak mencerminkan nilai produksi yang sesungguhnya. Meski demikian, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap mengajak para pengrajin untuk berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian tradisi Pelito Togok.
Dalam proses pelaksanaan, Dinas Pariwisata Kota Bengkulu menilai Pelito Togok yang dihasilkan tidak sesuai dengan anggaran yang diberikan dan meminta agar setengah dari dana tersebut dikembalikan. Penilaian tersebut menimbulkan kekecewaan bagi Dewan Kesenian Kota Bengkulu karena menurut Dewan, aspek yang lebih utama adalah keberhasilan melibatkan para pengrajin, menjaga keberlangsungan tradisi, serta menghasilkan karya budaya sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan tersebut, Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu akhirnya mengembalikan setengah dari dana kepada Dinas Pariwisata Kota Bengkulu. Namun demikian, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap memberikan pembayaran penuh kepada para pengrajin [26/7 13.22] Nasti: Sebagian besar pengrajin Pelito Togok memutuskan untuk menarik kembali karya mereka sebelum kegiatan berakhir pada 26 Juli 2026. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kekecewaan atas penilaian terhadap hasil karya mereka yang dianggap tidak sesuai dengan anggaran, serta karena mereka merasa belum memperoleh apresiasi yang layak dalam upaya pelestarian budaya.
Para pengrajin menyampaikan bahwa pembuatan Pelito Togok bukan semata-mata dinilai dari besaran anggaran, melainkan juga mengandung nilai seni, nilai budaya, proses kreatif, serta dedikasi dalam menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Bengkulu.
Melalui sikap tersebut, para pengrajin berharap pemajuan kebudayaan ke depan dapat lebih menghargai proses berkarya, memberikan ruang apresiasi kepada pelaku budaya, serta menempatkan nilai-nilai pelestarian tradisi sebagai bagian penting dalam setiap program kebudayaan. Menurut para pengrajin, dukungan terhadap kebudayaan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan anggaran, tetapi juga melalui penghormatan terhadap karya, kreativitas, dan kontribusi para pelaku budaya dalam menjaga warisan budaya daerah.
[26/7 13.22] Nasti: Pernyataan Dewan Kesenian Kota Bengkulu
Dewan Kesenian Kota Bengkulu menyampaikan bahwa kegiatan pembuatan 13 unit Pelito Togok dilaksanakan dengan total anggaran sebesar Rp8.850.000 yang bersumber dari Dinas Pariwisata Kota Bengkulu. Dengan keterbatasan anggaran tersebut, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap berkomitmen melibatkan para pengrajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan pelaku seni dan budaya.
Menurut Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu, Sandi Aprianto, biaya ideal pembuatan satu unit Pelito Togok berkisar antara Rp3.000.000 hingga Rp5.000.000, bergantung pada ukuran, desain, material, serta tingkat kerumitan pengerjaannya. Oleh karena itu, anggaran sebesar Rp8.850.000 untuk 13 unit pada dasarnya tidak mencerminkan nilai produksi yang sesungguhnya. Meski demikian, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap mengajak para pengrajin untuk berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian tradisi Pelito Togok.
Dalam proses pelaksanaan, Dinas Pariwisata Kota Bengkulu menilai Pelito Togok yang dihasilkan tidak sesuai dengan anggaran yang diberikan dan meminta agar setengah dari dana tersebut dikembalikan. Penilaian tersebut menimbulkan kekecewaan bagi Dewan Kesenian Kota Bengkulu karena menurut Dewan, aspek yang lebih utama adalah keberhasilan melibatkan para pengrajin, menjaga keberlangsungan tradisi, serta menghasilkan karya budaya sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan tersebut, Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu akhirnya mengembalikan setengah dari dana kepada Dinas Pariwisata Kota Bengkulu. Namun demikian, Dewan Kesenian Kota Bengkulu tetap memberikan pembayaran penuh kepada para pengrajin sesuai komitmen yang telah disepakati, dengan menutupi kekurangan biaya menggunakan dana pribadi Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu, Sandi Aprianto. Langkah ini diambil agar para pengrajin tidak dirugikan dan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam melestarikan tradisi Pelito Togok.
Dewan Kesenian Kota Bengkulu berharap ke depan pelaksanaan program pelestarian budaya dapat dibangun melalui komunikasi dan pemahaman yang lebih baik, sehingga nilai budaya, proses kreatif, serta kontribusi para pengrajin lokal memperoleh apresiasi yang layak. komitmen yang telah disepakati, dengan menutupi kekurangan biaya menggunakan dana pribadi Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu, Sandi Aprianto. Langkah ini diambil agar para pengrajin tidak dirugikan dan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam melestarikan tradisi Pelito Togok.
Dewan Kesenian Kota Bengkulu berharap ke depan pelaksanaan program pelestarian budaya dapat dibangun melalui komunikasi dan pemahaman yang lebih baik, sehingga nilai budaya, proses kreatif, serta kontribusi para pengrajin lokal memperoleh apresiasi yang layak. dana pribadi Ketua Dewan Kesenian Kota Bengkulu, Sandi Aprianto. Langkah ini diambil agar para pengrajin tidak dirugikan dan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam melestarikan tradisi Pelito Togok.
Dewan Kesenian Kota Bengkulu berharap ke depan pelaksanaan program pelestarian budaya dapat dibangun melalui komunikasi dan pemahaman yang lebih baik, sehingga nilai budaya, proses kreatif, serta kontribusi para pengrajin lokal memperoleh apresiasi yang layak.***has










