Harius saputra saat diwawancarai
KHAZANAHNEWS.COM**Kisah unik dan jejak rekam leluhur Jamintel Kejagung Reda Manthovani yakni Edwas Coles alias mister Badar di Bengkulu, belum semuanya terkuak ke permukaan. Sangat disayangkan, padahal kisah hidup dan sepak terjangnya membela pribumi di negeri Bencoolen sangat luar biasa. Ssjarah kehebatan Edward Coles seorang gubernur Fort Marlborough di negeri Bencoolen dan menikahi putri bangsawan kerajaan Selebar Kota Bengkulu. Dimana dari pernikahan tersebut melahirkan enam orang anak yang sampai sekarang tersebar dan masih tersisa keturunan ke 6 diantaranya keluarga besar Reda Manthovani Jamintel Kejagung dan beberapa keluarga di Kota Bengkulu.

Kajati Bengkulu Victor Antonius Saragih Sidabutar dan Kasi Penkum Ristianti Andriani yang menaruh perhatian besar terhadap leluhur Jamintel dengan merenovasi makam Edward Coles di Kandang Limun. Saat ini Kajati membentuk tim untuk menggali kisah dan jejak rekam Edward Coles yang ibunya dan istrinya orang Bengkulu dan Bapaknya keturunan asli Inggris, jejak rekam di Bengkulu agar bisa dibukukan, agar sejarah indah tersebut terkuak dan tidak hilang oleh waktu.
Kajati sudah membentuk tim investigasi penulisan buku Edward Coles yang dipimpin, Harius Saputra dengan beberapa anggota diantaranya, Meri Sasdi, Is, Tantawi dan Yulita Sari yang tidak lain sepupu Reda Manthovani. Sejauh mana perkembangan investigasi mereka, Harius dan Yulita menjelaskan Kamis(18/6). Menurutnya saat ini sedang berproses kendala mereka saat ini masalah data primer dan sekunder, timnya terus bergerak mencari data dan fakta untuk mendapatkan data akurat jejak rekam Edward Coles saat memerintah sebagai gubernur fort Malrborough antara tahun 1781 – 1785, dalam waktu dekat juga pihaknya akan ke Jakarta untuk bertemu keturunan ke 4 Edward Coles yang juga kakek artis Ashanty yakni Prof. Dr . Abdullah Siddik. Sejumlah buku dan literatur yang ada di Indonesia maupun di Inggris tidak menulis lengkap rekam jejak Edward Coles saat memerintah negeri Bencoolen, hal inilah yang memotivasi Kajati untuk membuat buku sejarah dengan tim penulisan buku Edward Coles.
Edward Coles (Senior) berbeda dengan Braham, seorang Eurasia. Menurut Ewer, beliau menyatakan dengan bangga bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki darah Inggris.
Coles diangkat menjadi Faktor di Fort Marlborough pada 7 November 1759 dan Sub-Sekretaris pada 13 April 1762. Selanjutnya, Coles menjabat sebagai Sub-Bendahara, Sekretaris, Faktor, dan Pedagang Junior.
Coles diangkat sebagai Residen di Lais pada 23 Agustus 1766, posisi yang dijabatnya hingga 1772. Coles secara intensif terlibat dalam proyek Balambangan yang gagal antara tahun 1772-1775, sebuah inisiatif yang diusulkan oleh Alexander Dalrymple, dan setelah kegagalan tersebut, beliau kembali ke Fort Marlborough untuk sementara sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa.
Coles kembali ke Sumatra Barat pada 22 November 1778 sebagai anggota Dewan Ketiga, dan selanjutnya diangkat menjadi Gubernur Fort Marlborough pada 14 Oktober 1781, posisi tersebut diembannya hingga 28 Februari 1785.
Kemudian, Coles mengambil cuti ke Britania Raya, dan diperkirakan kembali ke Sumatra Barat pada awal tahun 1790-an.
Keberadaannya di Benkulu terkonfirmasi pada Februari 1791, dan beliau merupakan salah satu agen Inggris terkemuka dalam perebutan pemukiman Belanda di Padang empat tahun berikutnya.
Coles bertugas di Padang dalam beberapa periode selama pendudukan Inggris, namun saat kedatangan Ewer, beliau berada di Fort Marlborough sebagai anggota Dewan ketiga.
Setelah pemberhentiannya dari jabatan tersebut, Coles tampaknya mengabdikan sebagian besar waktunya untuk pengembangan rempah-rempah di perkebunan dekat Sungai Silebar.
Coles memiliki pengaruh signifikan di distrik sekitar melalui hubungan keluarga dan perkawinan dengan penguasa lokal.
Coles, menjabat sebagai Kepala di Padang dari tahun 1802 hingga 1807, sebelum diberhentikan oleh Residen Fort Marlborough, Thomas Parr, menyusul adanya keluhan terkait kepemimpinannya dari salah satu penguasa lokal di Padang.
Sepanjang September 1807, Parr mendesak pembayaran kembali pinjaman pemerintah. Coles, yang memiliki sejumlah keluhan terhadap Parr, diduga terlibat dalam pembunuhan Parr pada Desember 1807. Coles sendiri wafat di Bengkulu pada 23 Desember 1810 di usia 74 tahun.***has










