Oleh: Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, MP
Peneliti Utama Kebijakan Publik Bidang Lingkungan,
Putra Bengkulu yang bermukim di Surabaya
KHAZANAHNEWS.COM**Kota Bengkulu sesungguhnya sedang berada dalam kondisi darurat sampah. Pencemaran tidak lagi terjadi secara parsial, melainkan telah membentuk mata rantai krisis yang saling terhubung—mulai dari kawasan pantai, pusat permukiman kota, hingga berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul yang kini berada dalam kondisi overkapasitas.
Berdasarkan estimasi kebijakan lingkungan perkotaan, timbulan sampah Kota Bengkulu saat ini berada pada kisaran 300–400 ton per hari. Angka ini sangat besar untuk kota dengan sistem pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pola konvensional. Tanpa pemilahan dan pengolahan di hulu, hampir seluruh timbulan sampah tersebut akhirnya bermuara ke satu titik: TPA Air Sebakul. Inilah sebab utama mengapa TPA cepat penuh dan kualitas lingkungan di sekitarnya terus menurun.
Jika ditarik garis pencemaran, persoalan sampah Bengkulu terbentang dari Pantai Panjang, kawasan Kebun Grand, Kebun Ros, kawasan wisata Danau Dendam Tak Sudah, hingga akhirnya berakhir di TPA Air Sebakul. Ini menunjukkan bahwa masalah sampah Bengkulu bukan persoalan satu lokasi, melainkan krisis sistemik pengelolaan kota.
Di kawasan Pantai Panjang, sampah kelapa muda—tempurung, plastik, sedotan, dan kemasan minuman—menjadi pemandangan berulang. Ketika ombak besar datang, sampah yang dibuang ke laut akan kembali ke daratan dan menyebar sepanjang pantai. Laut kehilangan fungsi ekologis dan ekonominya, sementara citra kota wisata ikut tercemar.
Di sisi lain, kawasan permukiman dan pusat kota seperti Kebun Grand dan Kebun Ros menghadapi persoalan penumpukan sampah, bau, serta saluran drainase tersumbat. Bahkan di Danau Dendam Tak Sudah, sampah mulai mengancam fungsi danau sebagai kawasan resapan, konservasi, dan ikon lingkungan Bengkulu.
TPA Bukan Solusi
Seluruh alur masalah ini akhirnya bermuara di TPA Air Sebakul. Namun perlu ditegaskan, TPA bukan solusi, melainkan titik akhir dari kegagalan pengelolaan sampah di hulu. Selama pendekatan yang digunakan masih sebatas angkut–buang–timbun, maka berapa pun kapasitas TPA akan selalu habis. Air Sebakul hari ini adalah alarm keras bahwa sistem lama sudah tidak relevan.
Sampah adalah Emas Terpendam
Sudah saatnya Bengkulu mengubah cara pandang. Sampah adalah emas yang terpendam—bernilai ekonomi sepanjang dikelola dengan teknologi, manajemen, dan kesadaran masyarakat. Paradigma ini telah terbukti di berbagai daerah di Provinsi Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, dan Banyuwangi.
Daerah-daerah tersebut mengembangkan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan bank sampah berbasis komunitas, sehingga sampah dipilah sejak dari rumah tangga, diolah di tingkat kelurahan, dan hanya residu akhir yang masuk ke TPA. Hasilnya, volume sampah ke TPA dapat ditekan secara signifikan, sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Jalan Realistis untuk Bengkulu
Model TPS 3R dan bank sampah merupakan jalan paling realistis bagi Bengkulu. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dan biogas, plastik dan anorganik bernilai menjadi bahan baku industri daur ulang, sementara tempurung kelapa muda berpotensi besar dikembangkan sebagai arang, briket, atau biomassa energi. Dengan pendekatan berbasis teknologi, sampah tidak lagi menjadi beban APBD, melainkan aset ekonomi daerah.
Pendekatan ini memberi manfaat strategis: memperpanjang umur TPA Air Sebakul, menekan pencemaran pantai dan kawasan wisata, menciptakan lapangan kerja hijau, serta membangun kesadaran bahwa kebersihan kota adalah tanggung jawab bersama.
Penutup
Krisis sampah Bengkulu bukan disebabkan oleh keterbatasan lahan semata, melainkan oleh cara pandang yang belum berubah. Selama sampah diperlakukan sebagai beban, ia akan terus menjadi sumber masalah. Namun ketika sampah dipahami sebagai emas terpendam yang dikelola dengan teknologi dan sistem yang tepat, darurat sampah Bengkulu justru dapat menjadi momentum kebangkitan menuju kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.***










