Petani Kopi Kepahiang  Menggeliat Torehkan Sejarah Ekspor Perdana

oleh -7 Dilihat
oleh

By : Hasanah

Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu terletak didataran tinggi dengan topografi sangat potensial untuk tanaman sejenis kopi. Dengan luas kebun kopi sebanyak 26.000 hektar dan 15.035 kepala keluarga menggantungkan hidup dari berkebun kopi. Pekerjaan yang sudah turun temurun dilakukan  penduduknya meski diselingi tanaman inang seperti sahang namun berkebun kopi menjadi tujuan utama untuk mencari nafkah. Puluhan tahun kopi robusta yang dihasilkan hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional. Kehidupan petani kopi juga beragam dalam artian yang memiliki kebun luas atau hektaran saat panen berlimpah rupiah. Namun yang kebun kopinya hanya sepetak atau kebun kopi dibelakang rumah saat panen hanya untuk kebutuhan sesaat. Bahkan hasil kebun kopi bagi pemilik lahan satu hektar saja bisa panen mencapai 4 ton kopi.

Namun demikian kenyataan pahit manis sebagai petani kopi terus dijalani tanpa pernah bermimpi buah merah bulat kopi akan bernilai tinggi dan dicicip bule luar negeri. Tumpuan kehidupan dari berkebun kopi ini seakan harga mati yang terus dijalani. Perubahan dan pergerakan ekonomi dunia siapa yang tahu? Harga kopi yang stabil atau rendah bisa saja mendadak berubah naik drastis karena permintaan dari luar daerah atau luar negeri. Pekebun kopi hanya bisa menunggu karena kopi hasil panen akan dijual ke pengepul atau tengkulak. Atau digiling sendiri untuk berikutnya dijual ke pasar lokal.

Data Badan Pusat Statistik , Provinsi Bengkulu tercatat sebagai produsen kopi terbesar ke -5 di Indonesia, dengan Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong sebagai bagian penting dari sentra produksi kopi utama Bengkulu. Potensi kopi yang besar Pemkab Kepahiang sudah terus melakukan pengembangan budidaya adopsi tanam pagar kopi sehingga hasil berlimpah.
Bank Indonesia Kpw Bengkulu bersama Pemerintah Daerah dan berbagai mitra terus mendorong peningkatan kualitas produk kopi, kapasitas pelaku usaha, penguatan kelembagaan, serta perluasan akses pasar melalui berbagai kegiatan pembinaan, kurasi, promosi, dan business matching .

Dalam pengembangan UMKM, Bank Indonesia menerapkan tiga pilar utama, yaitu Korporatisasi, Kapasitas, dan Pembiayaan. Ketiga pilar tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan dan kemitraan, meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha, serta memperluas akses pasar agar UMKM semakin naik kelas dan berdaya saing dengan pembiayaan dan sebagai bagian dari upaya mendorong UMKM unggulan berorientasi ekspor.  Pada tahun 2026, sebanyak 11 UMKM kopi Bengkulu dengan produk kategori premium dan fine mengikuti proses kurasi dan selanjutnya difasilitasi dalam business matching ekspor bersama agregator maupun calon buyer. Salah satu UMKM yang melalui rangkaian kurasi dan fasilitasi akses pasar. KPw BI Provinsi Bengkulu secara konsisten memberikan dukungan sarana dan prasarana kepada kelompok kopi berupa rumah jemur kopi, color sorter green beans , dan mesin roasting untuk memperkuat proses pascapanen, meningkatkan konsistensi mutu, dan mendukung pemenuhan kebutuhan pasar. Seperti disampaikan Kpw BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat bahwa BI membina bukan hanya sektor hulu namun sampai ke sektor hilirisasi. Pembinaan BI terhadap UMKM khususnya Kopi Kepahiang berbuah manis, kopi kualitas premium Kepahiang  berhasil menyeruak ke pasar global dari pergulatan bisnis lokal.

Setiap niat, usaha dan kerja keras Kpw BI Bengkulu,  Pemerintah Daerah dan jaringan bisnis berbuah ekspor. Tanggal 7 September 2026 dihalaman kantor Bupati Kepahiang wakil gubernur Ir.Mian, Kpw BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, Bupati Kepahiang Zurdi Nata, Bupati Lebong Azhari, Sekda Rejang Lebong Iwan Badar, melepas ekspor perdana 19,2 ton kopi Kepahiang ke negeri Pizza Italia. “Ini torehan sejarah” kopi Branding Bengkulu tembus pasar global. “Branding itu penting karena menyangkut nama besar,” tegas Wahyu Yuwana Hidayat pada wartawan Ekonomi grup BI. Potensi kopi Kepahiang sudah naik kelas kopi kepahiang berkualitas dan bisa setara dengan kopi dari negara lain. Petani kopi Kepahiang harus memanfaatkan kesempatan ini, menjaga kualitas dan stok pasokan karena nilai kopi Kepahiang sudah bernilai dollar. Petanj juga harus paham aturan kopi harus petik merah dan tanpa residu. Intinya kebun kopi dan hasilnya harus ramah lingkungan.

Terobosan BI ini selain membina dan mendanai UMKM juga berupaya mengkukuhkan ‘Branding’ Kopi Bumi Rafflesia go internasional. Kerja keras BI tidaklah sia-sia puluhan tahun produk perkebunan asal Bengkulu terkhusus kopi. Dibawah keluar Bengkulu melalui pelabuhan Teluk Bayur Sumbar, Pelabuhan Panjang Lampung atau Tanjung Periuk Jakarta. Mirisnya, branding Bengkulu hilang tak dimuat sehingga bak pepatah “sapi punya susu kerbau dapat nama”. Bengkulu hanya sebagai kebun. Dinding inilah yang diterobos BI Bengkulu “Branding itu penting karena menyangkut nama besar” sampai Wahyu Yuwana Hidayat dihadapan para Bupati dan wartawan. Untuk memperkuat stok ekspor kopi, tiga Bupati kabupaten penghasil kopi langsung MoU yakni Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong intinya harus konsisten pembinaan dan penyediaan stok kopi untuk memenuhi permintaan negara importir. BI sudah merintis dan membuka jalan ekspor, pekebun kopi tidak lagi was-was dan ekonomi rakyat UMKM bergerak bangkit***(penulis wartawan ekonomi BI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.