“SEMLUSUA PEMANUO IBEN NAK KUTEI JANG” KEKUATAN LOKAL YANG HARUS DI JAGA?

oleh -230 Dilihat
oleh

Dpk provinsi fasilitasi menggali kekuatan lokal

KHAZANAHNEWS.COM** Adat istiadat dan bahasa Suku Rejang di Provinsi Bengkulu meliputi Bahasa Rejang dengan beberapa dialek (Kepahiang, Curup, Lebong) serta aksara Ka Ga Nga. Tradisi penting mereka adalah Bekejai (upacara perkawinan), Kedurei Agung (ritual syukur dan pembersihan diri), rumah adat Umeak Potong Jang, dan pakaian adat dengan sulaman emas. Terdapat juga berbagai jenis kesepakatan pernikahan seperti Semendo dan Beleket, serta pepatah yang kaya akan makna moral.

Bahasa Rejang memiliki beberapa dialek seperti Kepahiang, Curup, dan Lebong, yang mencerminkan keberagaman masyarakat Rejang. Suku Rejang memiliki aksara sendiri yang disebut Ka Ga Nga. seiring waktu terjadi pergeseran dulu masyarakat Rejang umumnya menggunakan Bahasa Rejang dan Bahasa Melayu sebagai bahasa ibu. Namun, saat ini terjadi pergeseran ke Bahasa Melayu Bengkulu, terutama di kota-kota, yang menyebabkan generasi muda kurang memahami bahasa leluhurnya.

Dengan mengusung tema menumbuhkan kecintaan terhadap literasi kearifan lokal. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Bengkulu, Kamis(25/9) mengulik buku karya Sujirwan,S.Pd, M,Pd yang berjudul “Semlusua Pemanuo Iben Nak Kutei Jang”. Artinya menelusuri proses perjalanan sirih/adat dan budaya lokal rejang. Dalam upacara terima tamu penting, tamu harus mencicipi sirih yang disodorkan sebagai penerimaan. Jumlah sirih dan letaknya harus benar dan tidak sembarangan.

Bedah buku menghadirkan penulis buku Sujirwan,S.Pd, M.Pd, Prof.Dr.Sarwit Sarwono, peneliti aksara Kuno Fkip Unib, Lembaga Adat Rejang Kepahiang, Abdul Joni, Kadis DPK Provinsi, Dr.H.Meri Sasdi, M.Pd dan moderator Eko Pranoto,S.Sos.
Kadis DPK Provinsi Dr.H. Meri Sasdi, M.Pd, menjelaskan bedah buku berisi muatan adat dan ucapan bahasa rejang yang harus disempurnakan, kendala mendapatkan sumber-sumber kompeten. Sebab itu DPK menggelar bedah buku agar generasi muda bisa memahami sejarah dan kearifan lokal. Upaya atau cara agar adat yang menyangkut semua agar bisa lestari.
Persoalan yang ada saat ini banyak generasi muda keturunan rejang enggan menggunakan bahasa rejang dalam kehidupan sehari-hari. Meri Sasdi mengajak generasi muda untuk terus menulis dan menjaga adat istiadat lokal. Karena sesuai instruksi gubernur Helmi Hasan, adat istiadat merupakan kekuatan lokal yang harus selalu dijaga turun temurun agar tidak punah.

Sujiman selaku penulis buku, menjelaskan adat sekapur sirih yang biasa digunakan untuk menyambut tamu terhormat, tata letak, tempatnya berbeda antara rejang Curup dan rejang Kepahiang. Adat yang kuat tapi tetap kuat berlaku. Ironisnya, banyak adat yang disepelekan seperti sirih dalam cerano saat ini ada yang terbalik dsbnya. Agar adat dan bahasa rejang tidak hilang dan punah terutama pada generasi Z maka harus dilestarikan.

Kabid Deposit, Pengembangan Koleksi, Layanan dan Pelestarian DPK Provinsi Bengkulu, Hj.Wardaniar,S.Sos,M.Pd dalam laporannya menyampaikan,
Tujuan bedah buku mendalami isi dan gagasan suatu buku, meningkatkan pemahaman pembaca tentang pesan, gaya penulisan dan nilai-nilai yang terkandung dalam buku yang dibedah. Meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat, wadah bagi penulis untuk mendapatkan masukan konstruktif dari peserta dan mempromosikan buku baru dari karya penulis. Dan bermanfaat sebagai wadah untuk berdiskusi dan bertukar pikiran secara kritis.***hasanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.