Sinergi Kementerian LH – IPB dan Unib Gelar FGD Bahas Selamatkan Mangrove di Bengkulu

oleh -5 Dilihat
oleh

 

KHAZANAHNEWS.COM**BENGKULU-Hutan Mangrove sebagai penahan abrasi dan tempat berbagai ekosistem hidup dan berkembang biak. Namun kondisi hutan mangrove di berbagai Kabupaten di Provinsi Bengkulu, banyak yang sudah dirusak dan beralih fungsi. Para penggiat dan pihak berwenang terus melakukan berbagai penyelamatan dan menjaga ekosistem mangrove yang sekarang disebut kesatuan lanskap mangrove(KLM).

Diinisiasi dan Sinergi Kementerian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor(IPB) dan akademisi Unib yang juga aktivis Latun menggelar forum grup discussion(FGD) di Mercure Hotel(21/10). Diskusi tentang kegiatan ekosistem mangrove dan penyusunan fungsi mangrove. Dalam kesatuan lanskap mangrove(KLM) di Provinsi Bengkulu. Kegiatan yang merupakan kerjasama antara Kementerian LH, Akademisi Institut Pertanian(IPB) Bogor dan Fakultas Kehutanan Unib.

Diskusi bertujuan untuk pemetaan fungsi ekosistem mangrove secara lebih jelas. Agar pengelolaan dan penyelamatan mangrove di Provinsi Bengkulu lebih terarah dan berkelanjutan.

Guri besar IPB Prof. Dr. Ir. I Nengsh Surati Jaya selaku ketua tim, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB menyampaikan

“Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dengan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, untuk penyusunan fungsi ekosistem mangrove dalam Kesatuan Landskap Mangrove di provinsi Bengkulu.”

“Kesatuan Landskap Mangrove atau KLM ini sangat penting, karena mangrove tidak bisa dilihat satu kawasan saja, tapi harus dilihat sebagai satu kesatuan landskap, dari hulu sampai ke muara, dari darat sampai ke laut.”

“Kita sedang menyusun fungsi ekosistem mangrove di Bengkulu, mana yang berfungsi sebagai perlindungan pantai, mana sebagai tempat berkembang biak ikan dan kepiting, mana sebagai penyimpan karbon, dan mana sebagai kawasan wisata dan ekonomi masyarakat.” Tegasnya.

“Dari kajian IPB, mangrove Bengkulu ini potensinya sangat besar. Tapi kalau tidak disusun fungsinya dengan jelas, mangrove akan rusak karena alih fungsi lahan, tambak, dan pembangunan yang tidak terencana.” ujar. Hutan mangrove sebagai lanskap penjaga daratan dari abrasi harus dijaga secara baik, karena mangrove tempat bertumbuhkembangnya berbagai ekosistem hewan, baik ikan, kepiting maupun udang dan monyet didahan pohon mangrove. Namun demikian hutan mangrove bukan tidak boleh diganggu namun boleh dimanfaatkan secara bijak, terutama mangrove budaya. Survey IPB hutan mangrove di sejumlah wilayah di provinsi Bengkulu masih bagus terutama di Mukomuko, Bengkulu Utara, Seluma dan Benteng. Bahkan hutan mangrove di Pulau Enggano terbaik di Indonesia hasil survey IPB, sebab itu ia minta agar kealamian hutan mangrove di Enggano harus dijaga dan jangan dirusak. Lebih dari itu ia berpesan hutan mangrove primer sesuai UU LH tidak boleh dirusak dibangun breakwater, perumahan atau tambak.

Sementara akademisi Kehutanan Unib Prof. Dr. Gunggung Senoaji, S.Hut., M.P. yang juga ketua Latun Bengkulu, mengatakan melihat kondisi mangrove di Bengkulu ini masih ada yang bagus, tapi ada juga yang sudah rusak dan kritis. Terutama di kawasan pesisir yang dekat dengan pemukiman dan tambak, terutama di Bengkulu Utara, Benteng, Seluma dan Kaur.”tegasnya

“Penelitian UNIB menunjukkan, mangrove Bengkulu ini sangat penting untuk mencegah hantaman abrasi, banjir rob, dan menjadi tempat hidup berbagai ekosistem seperti ikan, udang, kepiting yang menjadi sumber penghasilan nelayan. Termasuk burung dan monyet yang bergelayutan di pohon mangrove”

“Melalui FGD ini, kami dari UNIB ingin memastikan data lokal Bengkulu masuk dalam penyusunan KLM yang merupakan kerja sama KLH/BPLH dengan IPB, sehingga kebijakan yang dibuat benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan, ” ujarnya.

Lanjut Gunggung Unib akan terus mendukung penelitian dan pengabdian masyarakat untuk merehabilitasi dan menjaga mangrove.

“Harapan kami, mangrove Bengkulu tidak hanya dijaga oleh pemerintah dan akademisi, tapi juga oleh masyarakat pesisir sendiri. Karena kalau masyarakat sadar manfaatnya, mereka yang akan jadi penjaga utama.” Sampainya.

“Potensi ekonomi mangrove juga besar, bisa untuk ekowisata, budidaya kepiting, dan produk olahan mangrove. Jadi masyarakat bisa dapat penghasilan tanpa harus merusak mangrove.”pungkasnya. Hasil FGD di Mercure Hotel tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan MoU untuk komitmen menjaga mangrove secara berkelanjutan.***hasanah
.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.